Tausyah
Lunturnya sikap malu dalam masyarakat salah satu ukuran turunya iman. Sebab, rasa malu akan segera menyingkir dengan sendirinya tatkala iman sudah terkikis. Sebagaimana sabda rosullulah SAW., yang artinya :’MALU DAN IMAN SALING BERPASANGAN. BILA SATUNYA HILANG, MAKA YANG LAIN TURUT HLANG.”(H.R HAKIM dalam kitab AL-mustadrak, ia berkata hadist ini shihih dengan syarat bukhori muslim dan Dzahabi menyepakatinya). Rosullulah saw pernah melewati seorang anak laki laki anshar yang mencela sifat malu saudaranya. Maka rosulullah saw bersabda, yang artinya :”TINGGALKAN DIA. SESUNGGUHNYA MALU ITU SEBAGIAN DARI IMAN.”
MUTIARA HADIST
Dari Abnu Abbas r.a ia berkata :”rasulullah SAW adalah sederma-dermanya manusia dan sederma-dermanya beliau adalah di (bulan) Ramadhan ketika mulai beliau. Ia menjumpai beliau pada setiap malam bulan Ramadhan, lalu beliau mentadaruskan al-Qur’an. Sungguh Rasulullah SAW. Adalah lebih dermawan dalam kebaikan dari pada angin yang diutus.” H.R. bukhori
MUTIARA HIKMAH
Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya allah akan memberikan jalan keluar untuk semua kecemasan dan akin membuka pintu keluar dari setiap kesempitan. Perumpamaan orang yang mengingat tuhanya dan yang tidak mengingat tuhanya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati Sungguh unik pekara orang mukmin itu. Semua perkara adalah baik. Jika mendapat keberuntungan ia bersukur, maka itu menjadi sebuah katakana. Dan jika di timpa musibah ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan pula baginya.
TAUSYIAH
Hidup di jaman sekarang ini tentu tidak akan menyaksikan mu’jizat,irhas dan suatu keberuntungan jika melihat suatu karomah, namun demikian, tentunya ita masih berharap dapat melihat ma’unah bahkan kita berharap agar kitalah yang mendapat ma’unah ketika ada bahaya mengancam kita. Bagaimana caranya untuk mendapat ma’unah,marilah kita selalu berusaha untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang shaleh.
KISAH TELADAN
Menolong dengan segelas air. Diwirayatkan ada seorang yang sangat bergelimang dosa. Suatu hari ia sedang dalam perjalanan, tiba tiba dalam perjalanan tadi ia menemukan seekor kucing yang sangat kehausan. Hatinya terenyuh, air yang diminumnya tadi kemudian di sodorkan kepada kucing, si kucing pun meminumnya ”tuhan pun mengampuni dosa dosanya, dan memasukanke dalam surga karena segelas air itu.” demikian sabda nabi Muhammad saw ketika menguraikan peristiwa ini. Begitulah harga dan kekuatan menolong, meski hanya segelas air dan seekor kucing yang ditolong.
RENUNGKANLAH
Agama menjadi sendi hidup, pengaruh menjadi penjaganya. Kalau tidak bersendi, runtuhlah hidup dan kalau tidak berpenjaga, binasalah hayat. Orang yang terhormat itu kehormatanya sendiri melarang bebuat jahat. Harta yang paling menguntungkan ialaH SABAR. Teman yang paling akrab ialah AMAL. Pengawal pribadi yang paling waspada adalah DIAM. Bahasa yang paling maniz ialah SENYUM. Dan ibadah yang paling indah tentunya KHUSHUK.
TASHOWWUF
Di zaman akhir seperti ini, kehidupan masyarakat sudah banyak yang berubah. Dengan fasilitas manusia yang semakin canggih, prilaku manusia juga semakin berkembang, bahkan semakin tidak karuan. Bukannya tambah baik, kok sepertinya Bertambah runyam. Kejahatan semakin merajalela. Kemaksiatan semakin terbuka. Yang baik dianggap kuno, yang buruk malah dianggap baik. Orang shaleh semakin jarang sedangkan orang salah semakin banyak.
RENUNGKANLAH !!!
Barang siapa yang menjaga kehormatannya, maka Allah akan menjaga kehormatannya, dan barang siapa yang merasa cukup, maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya, dan barang siapa yang bersabar, maka Allah akan menanamkan kesabaran kepadanya. Dan tidak Allah memberikan suatu pemberian kepada seorang yang lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran.
HATI YANG JAHAT TERLETAK PADA MULUTNYA, DAN MULUT YANG BAIK TERLETAK PADA HATINYA .
MEGAPA DO’A DITOLAK?
”Jangan salahkan Allah bila doa tak dikabulkan dan jangan pula menggerutu atau jemu,” kata Abdul Qadir-Jailani dalam Mafatih al-Ghaib. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa doa kita tak terkabul? Ada dua sebab mengapa doa tertolak. Yaitu, pertama, tidak memperhatikan adab berdoa, baik adab lahir maupun adab batin.
Rasulullah SAW bersabda, ”Doa seorang hamba Allah tetap dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk suatu perbuatan dosa atau memutuskan silaturahim atau tak terburu-buru segera dikabulkan.” Seorang sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, apakah maksud terburu-buru?” Rasulullah menjawab, ”Ia mengatakan, ‘aku telah berdoa tapi aku tidak melihat doaku dikabulkan’, sehingga ia mengabaikan dan meninggalkan doanya itu.” (HR Muslim).
Ketika suatu doa tak segera menampakkan tanda-tanda terijabah, maka seharusnya seseorang tetap berbaik sangka kepada Allah SWT. Sebab, Allah SWT akan mengganti bentuk pengkabulan doa dengan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi si pemohon atau ditunda pengabulannya hingga hari akhirat dalam bentuk deposito pahala.
Kedua, perilaku buruk. Syaqiq al-Balkhi bercerita: ketika Ibrahim bin Adham berjalan di pasar-pasar Bashrah, orang-orang mengerumuni beliau. Mereka bertanya, mengapa Allah belum juga mengabulkan doa mereka padahal telah bertahun-tahun berdoa, serta bukankah Allah berfirman, ”Berdoalah kalian, maka Aku mengabulkan doa kalian.” Ibrahim bin Adham menjawab, ”Hatimu telah mati dari sepuluh perkara.
” Yakni, pertama, engkau mengenali Allah, tetapi tidak menunaikan hak-Nya. Kedua, engkau membaca kitab Allah, tetapi tidak mau mempraktikkan isinya. Ketiga, engkau mengaku bermusuhan dengan iblis, tetapi mengikuti tuntunannya. Keempat, engkau mengaku cinta Rasul, tetapi meninggalkan tingkah laku dan sunah beliau. Kelima, engkau mengaku senang surga, tetapi tidak berbuat menuju kepadanya.
Keenam, engkau mengaku takut neraka, tetapi tidak mengakhiri perbuatan dosa. Ketujuh, engkau mengakui kematian itu hak, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Kedelapan, engkau asyik meneliti aib-aib orang lain, tetapi melupakan aib-aib dirimu sendiri. Kesembilan, engkau makan rezeki Allah, tetapi tidak bersyukur pada-Nya. Dan kesepuluh, engkau menguburkan orang-orang, tetapi tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu.
Waktu Dhuha
”Demi waktu dhuha. Dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak akan meninggalkan kamu dan tidak pula membencimu. Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak Tuhanmu pasti memberimu karunia-Nya, lalu hati kamu menjadi puas.” (QS Addhuha [93]: 1-5).
Waktu dhuha adalah salah satu waktu yang Allah SWT sebut di dalam Alquran dan bersumpah dengannya. Ia tidak disebut dan tidak pula dijadikan sumpah kecuali memiliki hikmah yang tersirat di baliknya.
Dhuha memiliki arti permulaan siang atau awal terbitnya matahari. Ia juga bisa diartikan sebagai waktu siang, lawan kata malam.
Di dalam Alquran, Allah SWT menjelaskan bagaimana waktu siang semestinya digunakan untuk mengerjakan aktivitas yang produktif, sebagaimana firman-Nya, ”Dan Kami jadikan waktu siang untuk mencari penghidupan.” (QS Annaba [78]: 11).
Nabi Muhammad SAW pernah mendoakan orang-orang seperti ini, ”Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada umatku di waktu pagi mereka.” (HR Attirmidzi). Kenapa waktu pagi? Karena ia menjadi awal di mana aktivitas sepanjang siang siap dimulai.
Di siang hari, Nabi Muhamamd SAW mengingatkan mereka agar tidak terlena dalam aktivitas kerja mereka, menyempatkan waktu untuk mengerjakan shalat dhuha. Sahabat Abu Hurairah berkata, ”Rasul SAW pernah memberikan wasiat tiga hal kepadaku, yaitu puasa tiga hari di tengah bulan (Hijriah), shalat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).
Allah SWT juga menjelaskan bagaimana waktu malam seharusnya digunakan untuk beristirahat. Allah SWT berfirman, ”Dia menyingsingkan waktu pagi dan menjadikan waktu malam untuk beristirahat.” (QS Al-An’am [6]: 96).
Begitulah Allah SWT mengarahkan manusia untuk memanfaatkan putaran waktu dengan baik dan tepat. Di sisi lain, Dia mengingatkan manusia agar tidak terlena dalam aktivitas kerja mereka di sepanjang siang, dan terlarut dalam istirahat mereka di sepanjang malam.
Saat di malam hari, Allah SWT membangunkan mereka agar tidak larut dalam istirahat mereka. Dia mengingatkan, ”Dan pada sebagian waktu malam, kerjakanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.” (QS Al-Isra [17]: 79).
Dari keterangan di atas, Allah dan Rasulnya seolah hendak mengingatkan bahwa aktivitas apa pun yang dikerjakan manusia, di sepanjang siang dan malam, seharusnya tidak membuyarkan kesadaran mereka akan Allah SWT. Dan sebaliknya, ibadah kepada Allah seharusnya tidak menghalangi mereka untuk bekerja.
Rotasi Hidup
Adanya pergantian dalam kehidupan ini merupakan harga yang tidak bisa kita tawar. Ada kehidupan tentunya ada kematian, terangnya siang akan diganti dengan gelapnya malam, ada kalanya kita berada pada posisi yang kita kehendaki tapi adakalanya juga kita harus siap berada pada kondisi yang tidak kita harapkan.
Hal tersebut merupakan wewenang dan hak prerogatif Allah SWT sebagai pengatur jalannya roda kehidupan manusia di muka bumi ini karena tidak seorang pun yang bisa menafikan itu semua. Sebagaimana disinggung dalam firman-Nya, ”Engkau (Allah) masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukan siang ke dalam malam. Dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup …” (QS Ali-Imran [3]: 27).
Lebih lanjut Allah SWT menyatakan, ”Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) [Ali-Imran 3:140]. Ayat tersebut mengisyaratkan kita harus cerdas dalam menilai setiap pergantian yang pada hakikatnya sudah ada dalam skenario-Nya.
Masih banyak manusia yang tidak menyadari arti dari sebuah pergantian dalam hidup. Seringkali kita berontak ketika pergantian tersebut tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Padahal, ibroh (pelajaran) di balik itu semua adalah sebagai ujian bagi kita sudah sampai sejauhmana keimanan kita terhadap Allah seperti disinggung pada ayat di atas. ”Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan ”kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji?” (Al-Ankabut 29:2).
Ujian tersebut tidak hanya diberikan untuk sebagian orang atau sekelompok kalangan, tapi mencakup semua manusia dan umat Islam khususnya. ”Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut [29]: 3)
Tak ada yang kekal di dunia ini, selain perubahan itu sendiri. Maka, tawakal dan ikhlas adalah hal utama yang harus dipegang setiap individu. Bertawakal, lalu mengerjakan segala urusan dengan sungguh-sungguh, dan ikhlas terhadap apa yang akan datang dan pergi. Karena dunia hanya tempat ‘mampir’ semata
Nasihat Ibnu Abbas
Salah satu sahabat kesayangan Nabi SAW adalah Ibnu Abbas. Sejak kecil dia sudah sangat dekat dengan Nabi SAW, sehingga Nabi SAW sangat mencintai dia dan mendoakannya untuk menjadi seorang yang faqih dalam masalah agama. Hasil dari doa tersebut, dia menjadi seorang sahabat yang ahli dalam ilmu tafsir, fikih, dan tercatat sebagai sahabat kelima yang paling banyak meriwayatkan hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Aisyah.
Dari sekian banyak nasihat yang beliau tuangkan dalam beberapa atsar-nya, ada empat nasihat sekaligus amalan yang paling dicintai oleh beliau, sebagaimana yang dikutip oleh Dr Umar Abdul Al-Kafi dalam bukunya Afaatu al-Lisaan. Di antara nasihat-nasihat itu adalah, pertama, supaya umat Islam senantiasa berkata dalam hal yang bermanfaat, sehingga dengan keterjagaan lisannya, setiap ucapan yang keluar dari mulut mengandung hikmah dan ilmu yang bermanfaat.
Kedua, selain berkata dalam hal-hal yang bermanfaat, dia juga menekankan untuk bertutur kata yang baik dan sopan dan melarang untuk berbantah-bantahan dengan cara dan bahasa yang kasar. Hal ini sejalan dengan syarat berdakwah yang baik, sebagaimana firman Allah SWT, ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Annahl [16]:125)
Ketiga, meminta kepada keluarga atau teman terdekat untuk selalu mengingatkan kita jika terdapat kesalahan dan kelakuan yang tidak mereka sukai. Begitupun dia menasihatkan untuk selalu gampang memaafkan kesalahan seseorang. Dengan saling mengoreksi dan gampang memaafkan, kita akan senantiasa sukses menjalin kekerabatan dengan siapapun.
Keempat, hendaklah bergaul dengan sesama dengan kelakuan yang baik dan yang mereka sukai, sebagaimana diri kita sendiri ingin digauli oleh orang lain dengan kelakuan yang baik dan yang kita sukai. Saling menghormati, mencintai, kelembutan, dan kesopanan merupakan fitrah yang paling dicintai oleh semua manusia.
Keempat amalan di atas merupakan kunci sukses Ibnu Abbas menjadi ulama yang sangat berpengaruh baik di kalangan sahabat ataupun bagi umat Islam pada umumnya. Selain itu dia juga mejadi seorang yang dicintai banyak orang
Memanfaatkan Waktu
Rasulullah SAW bersabda, ”Ada dua nikmat, di mana banyak manusia tertipu di dalamnya, yakni kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhori). Hadis di atas menjelaskan pentingnya memanfaatkan kesempatan (waktu), karena tanpa disadari banyak orang terlena dengan waktunya. Imam Al-Ghazali dalam bukunya Khuluqul Muslim menerangkan waktu adalah kehidupan. Karena itu, Islam menjadikan kepiawaian dalam memanfaatkan waktu termasuk di antara indikasi keimanan dan tanda-tanda ketakwaan. orang yang mengetahui dan menyadari akan urgennya waktu berarti memahami pula nilai hidup dan kebahagiaan.
Sebaliknya, orang yang tidak mengenal pentingnya waktu, ia seakan-akan hidup dalam keadaan mati, meski hakikatnya ia bernapas di muka bumi. ”Allah bertanya, berapa tahunkah lamanya engkau tinggal di bumi? Mereka menjawab, kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyalah kepada orang-orang yang menghitung.” (QS Al-Mu’minun [23]: 112- 113). Ayat di atas menunjukkan orang-orang yang tidak mengetahui pentingnya waktu seakan-akan hanya hidup sehari atau setengah hari, karena mereka tidak memahami arti umur, tidak mampu menguasai dan mengisinya dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat.
Membiarkan waktu terbuang sia-sia dengan anggapan esok masih ada waktu merupakan salah satu tanda tidak memahami urgensi waktu, padahal ia tidak pernah datang untuk kali kedua. Dalam pepatah Arab disebutkan ”Tidak akan kembali hari-hari yang telah lampau.” Sementara Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam bukunya Al-Fawaid menerangkan, ”Menyia-nyiakan hati disebabkan sikap yang lebih memprioritaskan kehidupan dunia dari akhirat, dan membiarkan waktu terbuang dengan anggapan esok masih ada waktu.”
Salah satu cara memanfaatkan waktu adalah menggunakannya untuk taat dan beribadah kepada Allah. Dalam kitab Fathul Baari diterangkan, ”Barangsiapa menggunakan kesempatan dan kesehatannya untuk taat kepada Allah, dialah orang yang amat berbahagia. Dan barangsiapa menggunakannya dalam bermaksiat kepada-Nya, dialah orang yang tertipu. Karena kesempatan senantiasa diikuti kesibukan dan kesehatan akan diikuti masa sakit.”
Doa Sukses
Setiap manusia senantiasa berharap sukses dalam kehidupan dengan memperoleh semua yang diinginkan dan dicita-citakannya. Kesuksesan ini bisa dalam bentuk sukses materi, sukses sosial, sukses intelektual, atau sukses emosional. Setiap kesuksesan tersebut bagi seorang Muslim, tidak hanya diperoleh dengan ikhtiar, namun juga disertai doa.
Doa merupakan pendorong rohaniah untuk terus berusaha karena meyakini bahwa setiap usaha yang dibarengi doa pasti akan sukses. Allah berfirman, ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku jawab.” (QS Al-Mu’min [40]: 60).
Dengan keyakinan ini setiap ikhtiar yang kita usahakan akan dilakukan dengan sebaik mungkin, kalau bisa sampai sempurna atau minimal mendekati kesempurnaan. Dalam sebuah hadis Qudsi rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya Allah berfirman: Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku dan Aku akan senantiasa menyertainya apabila berdoa kepada-Ku.” (HR Bukhari Muslim).
Para nabi dan Rasul, sebagaimana dikisahkan secara indah dalam Alquran senantiasa berdoa untuk sukses dalam misinya sebagai pribadi atau sebagai pemimpin umat. Nabi Ayub berdoa untuk sembuh dari penyakit; Nabi Isa berdoa untuk mendapat rezeki yang halal; Nabi Zakaria berdoa untuk mendapatkan keturunan yang baik; Nabi Sulaeman berdoa untuk mendapatkan kekuasaan. Doa-doa mereka merupakan doa-doa yang baik (ma’tsurat) yang dapat kita contoh dengan mengikuti dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Doa juga dinilai sebagai ibadah yang utama di sisi Allah, ”Tidak ada satu pun amal yang lebih mulia pada pandangan Allah daripada doa,” (HR Bukhari). Bahkan, Allah membenci orang-orang yang enggan berdoa kepada-Nya, ”Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (tidak mau berdoa), akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS Al-Mu’min [40]: 60). Betapa tingginya nilai doa bagi seorang Muslim, sehingga rasul menyatakan doa merupakan intinya ibadah (mukhul ibadah) dan senjata bagi orang yang beriman.
Agar kita senantiasa sukses dalam hidup marilah kita berdoa, baik di kala susah atau senang, ketika miskin atau kaya, dalam keadaan lapang atau sempit. Doa yang dipanjatkan secara dawam (rutin) inilah yang paling Allah sukai. ”Barangsiapa yang menginginkan doanya dipenuhi Allah ketika dia dalam kesulitan, hendaknya dia memperbanyak doa di waktu lapang (HR Tirmidzi dan Hakim).

cometar cteRakhiR